Thursday, September 22, 2016

0 Grand Opening SPB2016

    Acara Grand Opening Sekolah Penerus Bangsa 2016 yang diselenggarakan oleh BEM UNS di Korem Surakarta menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Kegiatan ini dipenuhi dengan berbagai wawasan baru berkat kehadiran para pembicara inspiratif yang membagikan ilmu dan pengalaman berharga. Setidaknya ada tiga materi utama yang begitu membekas dan layak untuk disampaikan kembali.

1. “WHO AM I?” – oleh Mas Hasan

    Materi pertama bertajuk “Who Am I?” dibawakan oleh Mas Hasan. Dalam sesi ini, kami diajak untuk mengenali diri sendiri melalui kekuatan, kelemahan, peluang, serta tujuan hidup yang ingin dicapai. Mas Hasan menekankan pentingnya pengelolaan potensi diri agar hidup menjadi lebih bermakna dan bermanfaat, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi bangsa. Hal yang paling saya ingat dari pemaparan beliau adalah kutipan yang sangat menggugah:
“Stop Pemikiran Konseptual.”
Artinya, jangan terus menerus hanya membuat konsep hidup tanpa tindakan nyata. Mulailah bertindak, sekecil apa pun langkahnya. Aksi jauh lebih penting daripada teori yang tak pernah dijalankan.

2. “Peran Mahasiswa” – oleh Mas Edo

    Materi berikutnya disampaikan oleh Mas Edo yang mengangkat topik “Peran Mahasiswa”. Beliau mengingatkan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab besar dalam membangun bangsa. Tidak cukup menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang), mahasiswa dituntut untuk hadir di tengah masyarakat, mendengar permasalahan, dan menjadi bagian dari solusi. Mas Edo menjelaskan empat peran penting mahasiswa:

  • Agent of Change: Mahasiswa sebagai motor penggerak perubahan. Perubahan dimulai dari hal kecil di lingkungan sekitar.

  • Iron Stock: Mahasiswa adalah generasi tangguh yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa. Maka perlu membekali diri dengan kapasitas, karakter, dan moral yang kuat.

  • Moral Force: Mahasiswa menjadi penjaga nilai-nilai kebenaran dan etika di tengah masyarakat.

  • Social Control: Mahasiswa harus kritis, peka terhadap kondisi sosial, dan mampu menyuarakan aspirasi rakyat kepada pemerintah.

Dari materi ini, satu pesan yang paling saya ingat adalah:
“Jangan Perkecil Cita-Cita.”
Contohnya, jika kita kuliah di fakultas kedokteran, jangan hanya bercita-cita menjadi dokter. Mengapa tidak bermimpi membangun rumah sakit sendiri untuk membantu mereka yang kurang mampu?

3. “Menulis Bukan untuk Menulis” – oleh Mas Dika

    Materi terakhir dibawakan oleh Mas Dika dengan tema “Menulis Bukan untuk Menulis”. Ia mengingatkan bahwa menulis bukanlah sekadar menuangkan perasaan, tetapi sebuah proses berpikir yang melibatkan akal secara aktif. Tulisan yang kuat lahir dari perpaduan antara pemikiran rasional dan perasaan yang jujur. Beliau juga memperkenalkan tokoh-tokoh penulis legendaris seperti Pramoedya Ananta Toer, Soe Hok Gie, dan Mochtar Lubis, yang karyanya terus hidup dan menginspirasi.
Menurut Mas Dika, modal utama menulis adalah membaca. Dari bacaan, lahir diskusi dan gagasan, lalu dituangkan dalam tulisan dengan keberanian dan kreativitas. Dengan menulis, kita membangun kesadaran, menjaga warisan ide, dan menjadi bagian dari perubahan.

    Melalui acara ini, saya tidak hanya mendapatkan ilmu baru, tetapi juga suntikan semangat untuk berbuat lebih. Tiga materi tersebut membuka mata saya bahwa peran mahasiswa begitu besar: mengenali potensi diri, berkontribusi untuk masyarakat, dan menulis demi keberlangsungan ide. Semoga semangat ini terus menyala dan menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh bagi bangsa Indonesia.



0 komentar:

Post a Comment

Bint4rt. Powered by Blogger.